[Student Speak Up 18] Flappy Bird, game monoton yang menjadi candu!

Tahu Flappy Bird? Yep, game ini sedang ramai dibicarakan di media sosial dan media massa. Popularitasnya mendadak naik daun, padahal game ini telah diluncurkan sejak Mei 2013. Flappy Bird kini menjadi game gratis terpopuler di toko aplikasi Apple App Store dan Google Play Store. Padahal, ia telah diluncurkan sejak Mei 2013. Ini merupakan game yang sangat sederhana, baik dari sisi tampilan maupun cara bermainnya.

Dibuat oleh pengembang Nguyen Ha Dong asal Hanoi, Vietnam, Flappy Bird menawarkan grafis klasik yang membawa Anda ke era game 8-bit. Cara memainkannya? Cukup dengan mengetuk jari ke layar untuk membuat si burung terbang, dan Anda harus melewati setiap pipa berwarna hijau.

Cara bermainnya memang terdengar mudah, dan tidak ada tantangan atau cerita lain. Tetapi percayalah, Flappy Bird merupakan salah satu game kasual tersulit. Membuat si burung melewati pipa adalah hal yang sangat sulit, jika waktu Anda mengetuk layar tidak tepat, maka membuat si burung terbang dan akhirnya menabrak pipa. Setelah itu, Anda harus mengulang game ini dari awal.

Namun adapula anggapan bahwa game ini terkesan monoton. Seperti pendapat Retno Tri Wulandari, Student Speaker kita kali ini. “Kalau dari segi grafis, menurut saya kurang menarik. Sepanjang game hanya ada burung kuning, pipa-pipa dan background perkotaan yang sama setiap jengkalnya.”

Lalu, apa sebenarnya yang membuat si Flappy jadi popular? Rasa penasaran semakin menjadi ketika melihat skor. Setelah bermain berkali-kali, dan gagal terus, ternyata skor yang Anda dapat hanya lima (5). Anda tidak akan tinggal diam melihatnya, ada dorongan kuat untuk mencoba lagi, tidak mungkin menolak tombol “OK” dan “Start.”

“Kalau saya pribadi, pertama kali tertarik karena banyak yang ngomongin game ini. nggak di twitter, facebook, kos, sampai kampus semua ngomongin flappy bird. Saya sendiri juga penasaran apakah game yang satu ini sama seperti game ‘bird’ yang dulu sempat populer itu? Tapi ternyata game yang satu ini lebih susah dan membuat frustasi. Best Score saya 4”, tutur Retno.

Namun eksistensi game ini patut dinantikan kedepannya. Apakah akan sefenomenal kawannya, Angry Bird? Atau hanya sekedar menjadi one hit wonder? “Seperti lagunya Peterpan yang ‘Tak ada yang Abadi’, game ini pasti juga tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat orang akan mulai meninggalkan dan lupa. Kalau menurut saya, alasan utama kenapa game ini akan ditinggalkan adalah karena cara bermain yang sulit dan visualnya yang kurang menarik. Dan belum lagi akan banyak game lain yang bermunculan yang bisa jadi lebih baik dari game ini. Tapi jika Nguyen Ha Dong meng-upgrade game-nya menjadi lebih baik, mungkin umur game-nya akan bertahan lebih lama.”, tambahnya.

Link berita

One thought on “[Student Speak Up 18] Flappy Bird, game monoton yang menjadi candu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *